Aksi Solider Dengan Masyarakat Myanmar-Krisis Kemanusiaan


Indonesia menjadi tuan rumah KTT para pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Jakarta pada 24 April, salah satu agendanya adalah membahas krisis di Myanmar. Pemimpin kudeta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing sayangnya menghadiri KTT tersebut, bersama dengan sembilan pemimpin pemerintahan lainnya dari negara-negara anggota ASEAN. Namun, Pemerintah Persatuan Nasional yang mewakili rakyat Myanmar tidak hadir dalam KTT tersebut. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari para aktivis hak asasi manusia, masyarakat sipil dan kelompok lintas agama dengan menggunakan tagline “We Stand with the People of Myanmar” dan Gowes for Democracy”.

Sebagai wujud solidaritas masyarakat Indonesia dengan masyarakat Myanmar, para aktivis hak asasi manusia, masyarakat sipil dan kelompok lintas agama menyelenggarakan doa lintas agama yang dianut oleh tujuh agama di Indonesia (Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Kong Hu cu , dan Sunda Wiwitan). Doa virtual dilaksanakan pada 23 April malam, menggunakan platform zoom dan disiarkan secara Live streaming melalui YouTube.

Selain doa, pada tanggal 24 April kami juga menyampaikan siaran pers yang memuat lima poin penting sebagai berikut:

  1. Menolak perwakilan junta militer Myanmar di KTT Khusus ASEAN dan sebaliknya membawa perwakilan dari pemerintah yang sah dan dipilih secara demokratis

  2. Menyerukan secara tegas kepada junta militer Myanmar untuk segera menghentikan pelanggaran HAM berat

  3. Membuka dukungan kemanusiaan untuk semua wilayah konflik di Myanmar secara komprehensif, aman dan tanpa hambatan, termasuk dukungan bagi wilayah minoritas Rohingya yang mengalami penyiksaan berkepanjangan.

  4. Membangun respon yang solid dan terkoordinasi antara negara-negara ASEAN, Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB dengan tujuan mengirimkan delegasi Gabungan ke Myanmar untuk memantau situasi, menghentikan kekerasan dan membantu negosiasi damai dan kemanusiaan.

Aksi solidaritas ini diakhiri dengan aksi convey sepeda bersama untuk memprotes secara damai kehadiran Junta Militer, Jenderal Min Aung Hlaing di KTT ASEAN. Para pengendara sepeda berjumlah sekitar tujuh puluh pengendara sepeda motor yang tergabung dalam aksi tersebut, yang berasal dari berbagai masyarakat sipil dan individu yang memiliki kepedulian terhadap demokrasi di Myanmar. Rute aksi bersepeda dimulai dari kantor LBH Jakarta Barat hingga sekretariat ASEAN di Jakarta Selatan. Namun, di tengah perjalanan petugas polisi menghentikan pengendara motor sebanyak tiga kali dan saat pengendara motor mendekati lokasi, hal ini menyebabkan sedikit ketegangan antara petugas kepolisian dengan pengunjuk rasa, namun aksi terus berlanjut hingga selesai.


Oleh: Genobeba Amaral SSpS

Featured Posts
Recent Posts