VIVAT Indonesia Adakan Latihan Kelompok Dampingan di Belu, NTT

VIVAT Internasional Indonesia melalui P. Paul Rahmat SVD, Sr. Genobeba Amaral SSpS membangun kerja sama dengan JPIC SSpS-SVD Timor yang dimulai sejak tahun 2017 hingga 2021 dengan dukungan MM (Mensen met een Misie MM) -Belanda. Kerja sama ini merupakan upaya mendorong anggota JPIC di akar rumput untuk tanggap terhadap isu human trafficking . Kegiatan yang diselenggarakan berposes sampai pada pelatihan tenun dan hortikultura dan pembentukan kelompok pemberdayaan. Pelatihan ini melibatkan 100 orang perempuan dan laki-laki, utusan dari lima (5) Paroki yang berada di wilyah Keuskupan Atambua dan lima desa di wilayah Kabupaten Belu, NTT.

Koordinator JPIC SSpS dan SVD bersama team yang terdiri dari P. Piter Dile Bataona SVD, Sr. Sesilia Ketut SSpS, Ibu Filomena Loe SE, Bapak Magnus Kobesi SH,

Bapak Yohanes Pari, Br. Damianus Mau SVD dan Sr. Genoveva Bikan SSpS.

Kegiatan pelatihan tenun - hortikultura dan pembentukan kelompok pemberdayaan ini melalui tahapan-tahapan. Tahun 2017 diadakan kegiatan sosialisasi human trafficking, UU TPPO dan migrasi aman di lima Paroki: Sadi, Wedomu, Lebur, Fatuketi, Atapupu yang menjadi wilayah pengirim TKI/TKW. Tahun 2018 dilanjutkan dengan pelatihan para legal dengan peserta 50 0rang perempuan dan laki-laki, TOT untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik yang melibtkaan 50 peserta perempuan dan laki-laki serta pelatihan menggunakan pewarna alam yang diikuti 40 peserta perempuan. Pada 2019 sudah mulai terbentuk kelompok-kelompok pemberdayaan di desa Sadi dan desa Umaklaran. Tahun 2020 diadakan kegiatan penguatan kelompok melalui sharing kelompok tentang keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam kelompok. Dan pada 2021 kegiatan pelatihan untuk 10 perempuan yang menjadi cikal bakal corong untuk meneruskan informasi tentang perdagangan orang dan migrasi aman di wilayah masing-masing.

Tim koordinator lapangan yang sekarang Sr. Celina Ninu SSpS, P. Fidelis Jemali SVD bersama anggota melanjutkan pertemuan rutin dan monitoring ke kelompok pemberdayaan yang sudah berjalan di wilayah yang berbeda. Wilayah desa Sadi ada satu kelompok tenun 10 orang anggota dan satu kelompok hortikultura 10 orang. Wilayah desa Umaklaran 1(satu) kelompok holtikultura 10 orang perempuan dan kelompok tenun 10 orang perempuan


Mereka bekerja di lahan miliknya dan kelompok pemberdayaan tenun bekerja di rumah. Bila ada kegiatan pelatihan, monitoring, pertemuan kelompok , pembinaan rohani, sharing kelompok semua berkumpul di rumah ketua. Dalam proses ini, peranan pendampingan awal, pelatihan, monitoring sangat menentukan maju mundurnya kelompok. Kelompok akan semakin kuat dan tingkat pengetahuan mereka bertambah, pola pikir berubah dan kesadaran untuk hidup bergotong royong dalam hal kerja sama sangat menonjol serta semangat juang untuk suatu kemajuan sangat terasa dan ada perubahan hidup.


Fokus dari joint program melalui pembentukan kelompok pemberdayaan ini adalah mengangkat harkat dan martabat yang dipandang rendah status kedudukannya dalam pandangan masyarakat dan orang muda. Kelompok hortikultura dan kelompok tenun didukung dengan bibit sayur dan benang. Kelompok – kelompok ini cukup berkembang dengan metode pelatihan yang telah diperoleh dan hasilnya sangat membantu perekonomian keluarga. Peluang pasar ada untuk memasarkan hasil produksi.


Harapannya adalah bahwa kerja sama VIVAT Indonesia - JPIC SSpS-SVD Timor berdampak positif bagi warga dampingan di Kabupaten Belu – Atambua NTT. Masalah Migrasi dan human trafficking bisa berkurang dan diminimalisir di wilayah Belu. “Hujan batu di negeri orang, hujan emas di negeri sendiri. Maka cintailah tanah air dan bangun negeri sendiri dengan sumber alam yang kaya dan membutuhkan sumber daya manusia memiliki visi untuk mengolah dan menghasilkan demi kesejahteraan hidup.

Sr. Genoveva Bikan SSpS



Featured Posts
Recent Posts