Kisah Perjuangan Kelompok Hortikultura dan Kelompok Tenun Di Kabupaten Belu - NTT

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian” demikian bunyi pepatah tua yang melukiskan situasi kelompok pemberdayaan kelompok Hortikutura dan kelompok tenun para ibu di Desa Sadi, Manleten dan desa Umaklaran-Belu.


Pada tanggal 24-27 November 2021, VIVAT Internasional Indonesia (Sr. Geno Amaral SSpS & Sr. Geno Bikan SSpS) Kembali mengunjungi kelompok dampingan di Belu. Kelompok dampingan terdiri dari kelompok hortikultura dan kelompok tenun bagi ibu-ibu di tiga (3) desa yakni; desa Umaklaran, desa Sadi dan desa Manleten. Kelompok pemberdayaan tersebut dibentuk tahun 2017. Terbentuknya kelompok ini karena mencuatnya isu migrasi tidak aman yang menyebabkan banyak korban secara khusus kekerasan terhadap tengan kerja dan korban perdagangan orang. Dengan Meningkatnya arus migrasi dan tuntutan kehidupan ekonomi keluarga, penduduk berlomba-lomba mengadu nasib ke Malaysia dan Kalimantan untuk kehidupan yang lebih layak. Sebagai resiko keluarga, rumah dan tanah milik mereka ditinggalkan demi mengejar pekerjaan di tempat lain seperti perkebunan sawit dan pembantu rumah tangga.

Melihat situasi seperti itu, VIVAT Internasional Indonesia bekerjasama JPIC Timor mengupayakan program pemberdayaan untuk menyokong kelompok marjinal dan kaum rentan “perempuan dan anak” yang berada di wilayah kantong migran khususnya di tiga (3) Desa yang disebutkan diatas. Pembentukan kelompok diawali dengan kegiatan sosialisasi migrasi aman, bahaya TPPO, pelatihan paralegal, pendataan warga dan pembagian bibit dan peralatan pertanian dan benang untuk keperluan pertanian dan ketrampilan tenun para ibu.


Seperti biasanya, setiap tahun Pengurus VIVAT Indonesia mengadakan kunjungan dan monitoring ke lapangan. Lawatan VIVAT kali ini untuk mendengarkan sharing pengalaman dan kegiatan kelompok dampingan selama tahun 2021, mengevaluasi seluruh kegiatan kelompok serta menyusun rencana kegiatan lanjuttan yakni peternak ikan dan peternak ayam petelur. Sangat menakjubkan bahwa ada perubahan signifikan pada kedua kelompok tersebut. Ladang-ladang petani desa Umaklan dan desa Sadi yang dulunya adalah lahan tidur (tidak dikelola) sekarang menjadi taman “hidup”. Sejauh mata memandang terbentang ribuan pohon tomat berdiri tegak pada topangan kayu berbaris rapih. Wajah – wajah kelompok hortikulrura dan para pengunjung tampak bersinar terpukau oleh pemandangan kebun tomat.


Bapak Silvester (Ketua kelompok Hortikultura) dengan bangga dan antusias berkisah tentang pengalamannya diawal keterlibatannya di kelompok. Mulanya dimulai dengan satu (1) kelompok dengan empat (4) orang anggota. Setelah berjalan satu tahun, jumlah anggota bertambah menjadi 40 orang, saat ini 4 kelompok. Kelompok ini mendapat perhatian dan dukungan dari VIVAT Internasional Indonesia, JPIC SVD-SSpS Timor Kepala Desa setempat juga lembaga swasta Nusram dan Sigenta yang membantu dengan penyuluhan. Setiap anggota kelompok bahu membahu bekerjasama mengolah lahan sekalipun peralatan yang dipakai sangat sederhama dan tradisional. Namun demikian tidak mengurangi semangat anggota kelompok untuk mengelola lahan dan berkreasi untuk meningkatkan hasil yang diharapkan.

Hasil yang diperoleh sete;ah satu tahun pembentukkan kelompok, terhitung Desember 2020 sampai Mei 2021 sebanyak 800-900 kg, hasil pemasaran sebesar Rp. 432.000.000. Pada bulan November 2021 hasilnya meningkat mencapai satu 1ton tomat dengan income Rp. 600.000.000.


Selain hasil panen, kelompok hortikultura mempunyai dampak yang luar biasa terhadap keluarga dan masyarakat setempat seperti:

a) Peningkatan hasil panen. Dengan bertambahnya hasil panen, kebutuhan setiap anggota yang tergabung dalam kelompok Hortikultura dapat dengan baik, dan dapat membiayai sekolah anak baik di bangku SD sampai perguruan tinggi.

b) Berkurangnya penggangguran. Desa Sadi yang dulu dikenal sebagai Desa yang memiliki banyak pengganggur dan pemabuk karena anak muda putus sekolah, kini orang muda bergabung dalam kelompok hortikultura sehingga mengurus lahan yang dapat memberikan hasil.

c) Adanya kesadaran warga setempat untuk mengolah lahan sendiri ketimbang mencari pekerjaan diluar Kampung/daerah yang mendatangkan resiko. Hal ini terbukti dengan beberapa warga yang kembali dari Kalimantan dan Malaysia ke daerahnya mengolah lahan dan memberi kesaksian kepada warga bahwa “di tempat/lahan kita pun, kita bisa memperbaiki kehidupan ekonomi asalkan kita rajin bekerja dan kreatif”.

Disisi lain kelompok tenun para ibu mengalami hambatan karena situasi COVI’19,

Hasil tenun para ibu di kedua wilayah- Halifunan-Desa Manleten dan Kopan Desa Sadi mengalami penurunan harga karena daya jual hasil tenun turun drastis. Hasil tenun sebelum masa pandemi atau Covid’19, berkisar sekitar Rp. 750.000 sampai Rp. 1.000.000, tetapi dengan munculnya Covid’19 harga berkisar Rp.250.000-300.000. Sekalipun demikian para ibu tidak berhenti berkreasi dan kelompok tenun masih tetap bertahan sampai saat ini.


Selain kegiatan pemberdayaan kelompok, VIVAT-JPIC Timor juga terus berupaya membangun kerjsama dengan Pemerintah dan Gereja setempat sehingga kelompok damping ini dikenal oleh Pemerintah dan Gereja lokal. Kelompok dampingan dipercaya oleh Desa dan Pemerintah daerah dalam mendampinggi kasus-kasus kekerasan dan perdagangan orang di Belu serta bekerjasama dengan Desa dalam melaksanakan program pemberdayaan kelompok tani.

Demikian kisah singkat tentang upaya VIVAT-JPIC Timor dalam memberdayakan masyarakat marginal dan kaum rentan (perempuan dan anak) di Belu.


Written By Sr. Geno Bikan SSpS

edited By Geno Amaral SSpS

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square